Merindukan ‘Nganggung’ dan ‘Lampu Likur’ yang Hilang karena Zaman

8 Jul 2015

Saya memang belum pernah merasakan berlebaran di tanah rantau, seperti di Jakarta, Bandung, atau Tangerang dimana saya tinggal. Alhamdulillah setiap tahun saya masih dilebihkan rezeki untuk bisa mudik ke kampung halaman. Begitu pula dengan tahun ini, saya mudik bersama istri dan anak ke kampung halaman saya di Pulau Bangka. Jadi saya merasakan betul nuansa lebaran dari tahun ke tahun sejak saya masih kecil hingga sudah berkeluarga seperti saat ini.

Tentu banyak sekali yang sudah berubah. Apalagi terkait dengan tradisi. Banyak hal-hal yang dulu pernah dirasakan ketika masih kecil, kini hilang dan tidak bisa dinikmati oleh generasi jaman sekarang. Dan terkadang saya sangat merindukan berbagai tradisi lebaran di masa lampau.

Yang masih ada dan terlestarikan sampai saat ini adalah tradisi bertamu/ berkunjung ke rumah-rumah tetangga. Karena rumah kita akan kedatangan tamu, sudah dipastikan aneka hidangan lebaran baik makan besar maupun makanan ringan semacam kue-kue kering harus disediakan. Tak hanya itu, berbagai macam soft drink juga tersedia di meja. Mencicipi hidangan yang disediakan tuan rumah adalah wajib, meskipun hanya sekedarnya. Hanya duduk diam atau ngobrol saja tanpa makan dan minum, bisa dikatakan kita tidak menghormati tuan rumah. Itu yang masih ada hingga sekarang. 

Namun ada beberapa tradisi yang di era gadget dan social media saat ini mulai berganti, bahkan hilang. Apa saja?

1. “Nganggung”

Nganggung, atau nama lainnya Sepintu Sedulang sebenarnya tidak hanya tradisi lebaran saja. Setiap perayaan hari besar Islam, tradisi ini masih dijalankan. Hanya saja terkait lebaran, sudah mulai bisa dihitung dengan jari jumlah kampung atau desa-desa di Pulau Bangka dan Belitung yang menjalankan tradisi Nganggung dimana setiap rumah membawa sedulang (Dulang = Nampan berbahan stainless) makanan berat dan ringan ke Balai Desa untuk dimakan bersama-sama ini.

TRadisi Nganggung (dokumentasi : jalan2.com)

Kurang tahu juga apa penyebabnya ya. Tradisi ini mulai berganti dengan open-house para pejabat pemerintahan, dimana rumah dinas para pejabat mulai dari tingkat Kepala Desa, Camat, Bupati atau Walikota dan Wakilnya, Ketua dan para anggota DPRD, dan Gubernur terbuka untuk masyarakat yang ingin hadir. Masyarakat pun berbondong-bondong datang ke rumah para pejabat tersebut. Tak hanya satu hari terkadang dibuka untuk dua hari. Positifnya sih para pejabat ini semakin dekat dengan rakyat karena diselingi dengan ngobrol ringan mendengar keluh kesah masyarakat. Tapi dampak negatif yang berasa, tradisi ‘nganggung’ mulai hilang.

2. Lampu Likur

10 Malam terakhir Ramadhan dikenal masyarakat melayu (tak hanya Bangka dan Belitung) sebagai Malam Likur. Saya juga tidak paham apakah ada hubungannya degan masyarakat jawa (karena Likur sepertinya juga dari bahasa Jawa). Namun tradisi lampu likur, Lampu Minyak yang dibuat dari sepotong bambu dengan beberapa sumbu ini dan dipasang di depan setiap rumah warga, sudah bisa dikatakan hilang.

Lampu Likur (sumber: bangsaid.com)

Lampu-lampu terssebut dibuat unik. Biasanya hanya 7 Sumbu. Setiap malam akan menyala satu persatu. Mulai dari malam ke-21 satu lampu, malam ke-22 dua lampu dan seterusnya hingga malam ke-27 yang menandakan malam lailatur qadar (meskipun sebenarnya malam Lailatur Qadar hanya Allah yang tahu). 7 Lampu minyak itu akhirnya benderang hingga malam takbiran, dan menjadi penerang di pinggir jalan. Tak hanya itu, lampu likur juga menambah semaraknya malam-malam Ramadhan. Dulu diwaktu kecil, ayah kami dan juga ayah-ayah tetangga memasang lampu likur di depan rumah. Kini?

Saat ini beberapa rumah masih menjaga tradisi Lampu Likur. Hanya saja medianya yang berganti. Terkait dengan kelangkaan minyak tanah, lampu likur yang dipasang berganti menjadi lampu listrik berwarna-warni. Meskipun masih ada, tapi tetap saja nuansa api likur dengan asap hitamnya yang khas menjadi hilang.

Dua hal tersebut saya rindukan di setiap lebaran. Ya, hanya bisa merindukan saja. Entah kapan tradisi-tradisi tersebut bisa ada lagi. Mungkin, butuh kita sendiri yang memulainya :-D


TAGS #ngaBLOGburit2015 #Ngablogburit ngaBLOGburit2015


-

Author

Follow Me