Tentang Acapella, Musik yang Fantastis

14 Sep 2013

Tak banyak yang mengenal jenis musik Acapella. Apalagi di negeri yang majemuk ini. Grup musik acapella yang terkenal terhitung dengan jari. Itu pun tertutup oleh dominasi boyband dan girlband lipsynch.

Berbeda dengan Indonesia, di Negara Negara barat musik acapella cukup berkembang pesat. Dibuktikan dengan saat ini muncul kontes vocal berbasis acapella bertajuk, Sing Off. Meskipun jarang mengikutinya, saya tahu kualitas acapella di luar negeri terus berkembang kreativitasnya. Jika dulu kita mengenal BoyzIIMen, All 4 One, atau Neri Percaso, saat ini sejak Sing Off digelar selama 3 musim setidaknya ada belasan grup musik acapella yang eksis dan mempunyai banyak penggemar, seperti Pentatonix (Jawara Sing Off).

Pada dasarnya, Acapella merupakan teknik bernyanyi tanpa diiringi alat musik. Acapella juga dikenal sebagai musik gospel atau musik religious Kristen. Namun saat ini, orang orang yahudi dan muslim juga tidak mengiringi nyanyian nyaian religinya dengan instrument musik. Khususnya pemuda pemuda muslim banyak yang menyanyikan lagu religi dengan teknik acapella yang dikenal dengan nasyid. Meskipun tidak semua tim nasyid bernyanyi secara acapella.

Sejarah Acapella

Dari beberapa website, secara harfiah a capella berarti Sesuai gaya Kapel. Dulu memang teknik ini dikembangkan oleh imigran Afrika yang sebelumnya telah terbiasanya bernyanyi pada pesta pesta di suku pedalaman. Mereka yang menjadi budak orang orang bule ini kemudian menirukan orang orang Kaukasia (bule) yang sering bernyanyi di Kapel atau gereja dengan instrument musik.

Karena para imigran ini tidak mampu membeli berbagai instrument musik, jadilah mereka menirukan suara suara alat musik tersebut hingga terdengar harmonis. Akhirnya teknik bernyanyi ini ditiru oleh orang orang Eropa hingga Asia.

Saya dan Acapella

Ketertarikan saya pada musik acapella berawal ketika malam Inagurasi di saat ospek ketika kuliah di Politeknik Gajah Tunggal, Tangerang. Saat itu saya melihat sekelompok kakak kelas tampil memebawakan lagu secara acapella yang menurut saya saat itu sangat keren sekali. Akhirnya saya dan beberapa teman pun mencoba bergabung dengan kakak kakak tersebut. Dibawah asuhan mereka kami membentuk sebuah grup acapella yang saat itu bernama Shousil-23 dan sempat menjuarai beberapa festival nasyid lokal dan regional. Kami juga sempat mewakili Banten di ajang Festival Nasyid Indonesia yang ditayangkan TVRI tahun 2005 lalu.

Saat ini Shousil-23 sudah berganti personil dan berubah nama menjadi Nasyid TIRTA, meskipun tidak seaktif dulu mengisi berbagai acara pernikahan, tabligh akbar, hingga kampanye partai politik.

Nasyid TIRTA - Andai Ku Tahu (Cover Ungu)

Tips Khusus Belajar Acapella

Saya dan teman teman sebenarnya belajar secara otodidak dengan konsep ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Modal utama untuk menjadi penyanyi atau membentuk grup musik acapella professional adalah punya pendengaran dan feeling musik yang bagus. Kalau suara sih jutsru kita butuh berbagai jenis suara, bukan sebagus apa suaranya :-D

Yang namanya grup terdiri dari beberapa orang. Begitu pula dengan acapella yang harus terdiri dari minimal 4 orang. Untuk jumlah maksimal memang tak dibatasi. Beberapa peserta Sing Off bahkan memiliki jumlah anggota lebih dari 10 orang. Setiap anggota memiliki peran tersendiri. Komposisinya yakni Rhythm, Lead Vocal, Bassist, dan Beatbox. Untuk Bas dan Beatbox tidak wajib ada, bisa salah satunya saja.

Rhythm yang bertindak sebagai backing vocal harus membagi suaranya menjadi Tenor dan Bariton agar terdengar harmonis. Harmonisasi disini dibentuk oleh nada Do-Mi-Sol membentuk suatu Chord pada alat musik seperti gitar. Selain rajin latihan, jam terbang juga dapat membantu membangun harmonisasi dan chemistry antar anggota grup.

Selanjutnya, semoga musik acapella di Indonesia semakin berkembang.

Pentatonix - Payphone (Cover Maroon 5)


TAGS musik. acapella musik religi pentatonix nasyid tirta FNI #30HariNonStopNgeblog Sing Off


-

Author

Follow Me